29 Oktober 2026

Jurnalis Berita Kota

Aktual dan Terpercaya

Solar Langka di SPBU ITERA Kotabaru, Antrean Mengular Hingga Kilometer — Rakyat Kecil Kembali Menjadi Korban?

JBK, LAMPUNG SELATAN— Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Solar kembali menjadi sorotan. Kondisi tersebut terjadi di Jalan Terusan Ryacudu SPBU kawasan ITERA, Kotabaru, Lampung Selatan, Minggu (13/09/2026), dengan antrean kendaraan yang disebut mengular hingga sangat panjang.

Persoalan ini bukan sekadar tentang panjangnya antrean kendaraan. Bagi para sopir angkutan yang menggantungkan penghasilan dari kendaraan berbahan bakar Solar, sulitnya memperoleh BBM bersubsidi tersebut berarti waktu kerja terbuang, biaya operasional meningkat, dan penghasilan keluarga ikut terancam.

Pantauan di lokasi menunjukkan kendaraan harus menunggu dalam antrean untuk mendapatkan Solar. Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan besar: mengapa persoalan Solar kembali terjadi dan berlangsung berulang?

Apakah pasokan Solar ke SPBU memang terbatas? Apakah distribusi berjalan sesuai kebutuhan masyarakat? Atau terdapat persoalan lain dalam tata kelola dan pengawasan distribusi BBM bersubsidi?

SOPIR: SETIAP HARI KESULITAN MENDAPATKAN SOLAR

Salah seorang sopir berinisial SL saat dimintai keterangan mengungkapkan bahwa kesulitan mendapatkan Solar bukan hanya terjadi pada hari ini.

Menurutnya, kondisi tersebut sudah dirasakan para sopir dan terjadi berulang kali.

“Kami setiap hari kesulitan mendapatkan BBM jenis Solar. Kalau antre seperti ini, waktu kami habis di SPBU. Padahal kami harus bekerja dan menjalankan kendaraan untuk mencari nafkah,” ujar SL.

SL berharap pemerintah maupun pihak terkait turun langsung melihat kondisi yang dialami masyarakat di lapangan.

Ia meminta agar persoalan ketersediaan Solar tidak hanya dilihat dari sisi administrasi distribusi, tetapi juga dari dampaknya terhadap masyarakat kecil yang menggunakan kendaraan sesuai peruntukannya untuk bekerja.

“Kami berharap pemerintah membantu kami rakyat kecil yang memang membutuhkan Solar untuk bekerja. Kendaraan kami juga sesuai dengan jenis angkutannya. Jangan sampai kami kesulitan mendapatkan BBM untuk mencari nafkah,” katanya.

PEMERINTAH DAN PERTAMINA DIMINTA BUKA DATA

Panjang dan berulangnya antrean Solar di SPBU tersebut semestinya menjadi perhatian serius pemerintah daerah, pemerintah pusat melalui instansi terkait, serta PT Pertamina Patra Niaga selaku pihak yang menjalankan kegiatan distribusi BBM.

Masyarakat berhak mendapatkan penjelasan secara terbuka mengenai ketersediaan stok, volume penyaluran, jadwal pasokan, hingga mekanisme pengawasan Solar subsidi di SPBU tersebut.

Jika memang terjadi keterbatasan pasokan, masyarakat perlu mengetahui apa penyebabnya dan kapan kondisi tersebut dapat kembali normal.

Sebaliknya, apabila stok sebenarnya tersedia namun antrean tetap terjadi setiap hari, maka perlu dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap pola distribusi dan pelayanan di lapangan.

JANGAN SAMPAI RAKYAT KECIL YANG TERUS MENANGGUNG BEBAN

Persoalan BBM bersubsidi bukan perkara kecil. Solar menjadi salah satu kebutuhan penting bagi sektor transportasi, distribusi barang, usaha kecil, dan berbagai aktivitas ekonomi masyarakat.

Ketika sopir harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendapatkan Solar, dampaknya tidak berhenti di SPBU. Biaya operasional kendaraan dapat meningkat dan pada akhirnya berpotensi memengaruhi biaya distribusi barang maupun pendapatan para pekerja.

Karena itu, pemerintah dan Pertamina perlu memberikan jawaban yang jelas kepada masyarakat.

Jangan sampai masyarakat hanya diminta bersabar, sementara antrean panjang terus berulang dan para sopir kehilangan waktu produktif setiap harinya.

PUBLIK MENUNGGU PENJELASAN RESMI

Hingga berita ini disusun, informasi mengenai penyebab pasti terjadinya antrean panjang dan dugaan keterbatasan Solar di SPBU ITERA Kotabaru masih perlu dikonfirmasi kepada pihak pengelola SPBU, Pertamina Patra Niaga, serta instansi pemerintah yang memiliki kewenangan melakukan pengawasan dan pengendalian BBM bersubsidi.

Konfirmasi tersebut penting agar persoalan ini tidak berkembang menjadi spekulasi di tengah masyarakat.

Satu pertanyaan yang kini menunggu jawaban: jika antrean Solar terjadi hampir setiap hari, di mana letak persoalannya—pasokan, distribusi, pengawasan, atau tata kelola BBM bersubsidi?

Masyarakat tentu berharap persoalan tersebut segera mendapatkan solusi konkret, bukan sekadar penjelasan normatif.(Red)

Copyright | Jurnalis Berita Kota © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.